Digital tourism merupakan salah satu strategi efektif untuk mempromosikan potensi unggulan suatu daerah melalui platform berbasis teknologi dengan target generasi milenial.

“salah
satu bentuk wujud digital tourism dalam mengembangkan pariwisata di Indonesia
adalah dengan membuat destinasi wisata yang instagramable. Tren pariwisata
selalu berubah setiap waktu. Berbagai faktor pun mempengaruhi, salah satunya
adalah generasi yang selalu dibicarakan, Milenial.
Milenial lagi, milenial lagi.
Generasi ini seperti tidak henti-hentinya menjadi topik pembicaraan di mana
pun. Namun, ternyata pengaruhnya cukup besar terhadap sebuah perkembangan
pariwisata. Jumlah data menyebutkan, bawa
dari total populasi di Indonesia saat ini, sekitar 179,1 juta orang (67,6%)
merupakan kelompok usia produktif (14-64 tahun), dan 24% dari kelompok itu atau
sekitar 63,4 juta orang merupakan generasi milenial yang berusia 20-35 tahun.
Dari jumlah populasi tersebut,
generasi Milenial ternyata memberikan dampak signifikan bagi industri
pariwisata khususnya perhotelan. Hal ini didukung karena mereka merupakan
generasi yang dekat dengan teknologi. Kedekatan dengan gawai contohnya, yang
memudahkan akses informasi.
Milenial merupakan satu-satunya generasi yang disebut ‘digitally native’, atau sangat familiar dengan gawai dan teknologi. Saat mereka plesiran, umumnya jadi hal wajib untuk membagikan pengalaman di media sosial.

Meskipun
(pada kenyataanya) generasi di atas milenial pun juga ikut-ikutan. Foto dan
berbagi menjadi hal wajib saat berwisata. Namun, platform atau media yang
digunakan umumnya berbeda.
Layanan finansial Allianz,
pada tahun 2017 pun juga pernah melakukan survei yang menghasilkan data bahwa
milenial nyatanya hanya memiliki waktu liburan lebih sedikit dibandingkan
generasi sebelumnya. Rata-rata, hanya 12 hari saja.
Namun, karena kedekatannya
dengan teknologi, milenial seakan-akan mampu ‘menyulap’ waktu singkat tersebut.
Mereka mampu membuat perjalanan wisata yang efisien dan efektif melalui
kedekatan teknologi. Mulai dari membeli transportasi, mengatur jadwal
perjalanan sampai akomodasi.

Pelan-pelan, industri hotel juga
menyediakan fasilitas untuk mengakomodasi kebutuhan wisata yang cepat dan mudah
diakses. OYO pun juga memberikan fasilitas ini seiring perkembangan tren.
“Teknologi merupakan
salah satu keunggulan yang membedakan OYO dengan jaringan hotel sejenis. Kami
sangat siap menyambut konsumen milenial, khususnya mereka yang melek teknologi.
Selain menawarkan solusi bagi konsumen, aplikasi OYO dirancang untuk
mempermudah aktivitas operasional sehari-hari pemilik properti. Lebih dari itu,
teknologi ini juga mendukung kapabilitas perusahaan sehingga memungkinkan bagi
OYO menambah lebih dari 64 ribu kamar setiap bulannya secara global,” ujar
Rishabh Gupta, Country Head OYO Hotels Indonesia.
Begitupun dengan sejumlah
perubahan sifat atau perilaku wisata. Dahulu, mungkin orang akan pergi ke agen
wisata konvensional atau hanya sekadar mengambil informasi melalui spanduk,
banner dan media promosi non-digital.
Seiring berjalannya waktu, hal
ini diselaraskan oleh para pelaku industri wisata yang berbasis digital.
Traveler bisa lihat berbagai perkembangan Online Travel Agent, atau badan pariwisata
yang mempromosikan tempatnya melalui media sosial.

Pilihan wisata melalui
teknologi pun juga bisa memudahkan dari berbagai sisi. Dari mulai melihat harga
termurah, akses, sampai memesan transportasi, akomodasi dan atraksi.
Tentunya, meski hal ini dipengaruhi oleh milenial, nyatanya generasi lain pun
juga terbantu dengan kemajuan teknologi di industri pariwisata.
Di sisi lain, kehadiran milenial menyebabkan disrupsi di industri pariwisata, di mana cara-cara lama dan konvensional tidak lagi dilirik, digantikan oleh medium yang lebih kekinian seperti platform digital.
Maka itu, pelaku bisnis pariwisata Indonesia perlu segera mengantisipasi perubahan model bisnis pariwisata di era digital atau millennial tourism di mana pasar dunia akan didominasi kelompok wisatawan ini.
Para millennial travelers ini mempunyai kesenangan untuk berpetualang atau travelling, namun mereka lebih suka menggunakan jasa-jasa perjalanan wisata yang berbasis aplikasi, bukan lagi konvensional.
“Ini tentu menjadi salah satu tantangan besar bagi pelaku bisnis pariwisata di Tanah Air untuk segera menyesuaikan model bisnis mereka sesuai dengan tuntutan pasar,”Asnawi mengakui, saat ini sebagian besar wisatawan milenial lebih memanfaatkan teknologi digital diban dingkan cara tradisional dalam memilih tiket akomodasi maupun pemesanan kamar hotel. Meski demikian, Asita tetap optimistis bisa meraih pangsa pasar tersebut dengan mengandalkan pelayanan terbaik.